Selasa, 19 Januari 2010

ADAB KEPADA ORANGTUA

Dede Tasmara

Tidak terhitung dan tidak akan terbalaskan jasa dan kebaikan orangtua kepada anaknya, dari mulai mengandung dengan susah payah, melahirkan, menyusui, memelihara dengan penuh kasih sayang, mendidik, dan lain sebagainya. Orangtua tidak mengharapkan imbalan.

Barangkali inilah yang menjadi penyebab sehingga birrul walidain (berbuat baik kepada orangtua) termasuk amal wajib yang paling dicintai Allah, bahkan dalam al-Quran perintah untuk berbuat baik kepada orangtua ditempatkan kedua setelah perintah berbakti (beribadah) kepada Allah.

Allah swt berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah kecuali kepadaNya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, {al-Israa’ 17:23}

قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ سَأَلْتُ النَّبِيَّ ص أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَلَى قَالَ بِرُّ الْوَلِدَيْنِ
Ibnu Mas’ud berkata, aku bertanya kepada Nabi saw, “Amal apa yang paling disukai oleh Allah? Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orangtua”. {Muttafaq Alaih}

Allah swt serta Rasulullah saw sudah menjelaskan bagaimana cara berbuat baik kepada orangtua, yaitu:

1. Mentaati apapun yang diperintahkan oleh kedua orangtua selama bukan berupa maksiat atau pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah dan RasulNya, karena Allah telah mengharamkan taat kepada makhluk dalam maksiat kepada khalik (pencipta).

Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الطَاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
Hanyalah ketaatan itu pada perkara yang ma’ruf. {Muttafaq Alaih}

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِى مَعْصِيَّةِ الْخَالِقِ
Tidak ada taat kepada makhluk dalam maksiat kepada khalik (Allah).

Saad bin Malik berkata, “Aku adalah anak yang selalu taat dan selalu berbakti kepada ibuku, tatkala aku memeluk Islam, ibuku berkata, ‘Hai Saad apa yang telah terjadi padamu, tinggalkanlah agamamu (Islam) ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga mati!’ maka ibuku memakiku hingga qatila ummah, si pembunuh ibunya. Maka aku berkata kepadanya, ‘Jangan engkau lakukan itu wahai ibuku, karena sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini dengan sebab apapun’. Lalu ibuku tidak makan dan minum selama beberapa hari hingga keadaannya sangat lemah, maka aku berkata kepada ibuku, ‘Wahai ibuku, demi Allah, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa (ruh) kemudian engkau mengeluarkannya satu persatu, tetap aku tidak akan meninggalkan agamaku, wahai ibuku jika engkau mau makan, silahkan dan jika tidakpun silahkan, hingga akhirnya ibuku makan”. {Ibnu Katsir:538}

Dari kejadian di atas, turunlah surat Luqman (31) ayat 15:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku, yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya, dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan baik.

2. Hendaklah berkata kepadanya dengan menggunakan kata-kata yang santun disertai penuh rasa hormat, tidak membentak dan tidak mengarahkan pandangan mata kepadanya.

وَقُالْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Dan ucapkanlah kepada mereka berdua perkataan yang mulia. {al-Israa’ 17:23}

Abul Haddaj ath-Thujibi berkata, “Aku bertanya kepada Said bin al-Musyyab, setiap yang Allah telah terangkan di dalam al-Quran bertalian dengan birrul walidain aku telah mengetahuinya kecuali firmanNya: (وَقُالْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا), apa yang dinaksud dengan qaulan kariman itu? Maka Said bin al-Musyyab berkata, ‘Sikap seorang hamba sahaya yang melakukan pelanggaran dihadapan majikannya yang bengis”.

3. Menghormati dan memuliakan mereka, baik dengan ucapan atau perbuatan, tidak menghardiknya, tidak berjalan dihadapannya, dan tidak memanggilnya dengan menyebut nama mereka, tetapi hendaklah memanggilnya dengan panggilan kesukaannya, seperti: wahai bapakku (ya aba), wahai ibuku (ya ummah), serta tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan apalagi setelah mereka berusia lanjut. Allah swt berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْ هُمَا
Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka berdua. {al-Israa’ 17:23}

4. Jangan sekali-kali memaki mereka, karena hal demikian termasuk dosa besar. Rasulullah saw bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ
Termasuk dosa besar, seseorang memaki kedua orangtuanya. {Muttafaq Alaih}

Rasulullah saw ditanya, “Adakah orang yang memaki ibu bapaknya?”, beliau menjawab, “Ada, (yaitu) memaki bapak seseorang, lalu orang itu berbalik memaki bapaknya, dan ia memaki ibunya, lalu orang itu berbalik memaki ibunya”.

5. Hendaklah selalu berdoa untuk mereka, baik ketika masih hidup ataupun setelah meninggal. Allah swt berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَنِي صَغِيرًا
Dan katakanlah olehmu, “Ya Allah, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah menyayangiku diwaktu aku kecil”. {al-Israa’ 17:23}

Allah swt berfirman:
أَنِ اشْكُرْلِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Bersyukurlah engkau kepadaKu dan kepada orangtuamu, hanya kepadaKu lah tempat kembali. {Luqman :14}

Sufyan bin Uyainah berkata, “Siapa yang mengerjakan shalat yang lima waktu, sungguh ia telah bersyukur kepada Allah, dan siapa yang mendoakan kedua orangtuanya setelah selesai shalat, sungguh ia telah bersyukur kepada kedua orangtuanya”.

6. Janganlah mendurhakai mereka. Rasulullah saw bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَلْإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
Maukah aku beritahu tentang dosa terbesar diantara dosa-dosa besar? (yaitu) menyekutukan Allah dan mendurhakai orangtua. {Muttafaq Alaih}

Ka’ab al-Ahbar berkata, “Mendurhakai orangtua (arab) adalah: apabila orangtuanya melakukan pembagian, dia tidak memandang baik terhadap pembagiannya, apabila orangtua memerintah, dia tidak mentaatinya, apabila orangtua meminta sesuatu kepadanya, dia tidak memberikannya, dan apabila orangtua beramanat kepadanya, dia mengkhianatinya. {al-Kabair:30}

Berbakti Kepada Orangtua yang Sudah Wafat
Malik bin Rabiah berkata, “Ketika kami bersama Nabi saw, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Salamah, kemudian berkata:

أَبَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ اَلصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالْإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِيفَاءُ بِعُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحْمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا
‘Wahai Rasulullah, masih adakah kesempatan bagiku untuk berbauat baik kepada kedua orangtuaku setelah keduanya wafat?’ Beliau menjawab, ‘Ada (yaitu) mendoakan keduanya, memohon ampunan untuk keduanya, menunaikan janji keduanya setelah keduanya wafat, memuliakan saudara-saudara dan menyambung silaturrahmi yang tidak akan bersambung kecuali dengan sebab mereka’. {Ibnu Majah:1208}

Hadits diatas menjadi dalil bahwa kematian kedua orangtua bukan merupakan penghalang bagi seorang anak untuk terus berbakti kepada mereka.

Memohon Ampun Untuk Orangtua yang Kafir
Memohon maghfirah (ampunan) kepada Allah untuk orangtua yang kafir, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal, hukumnya haram. Allah swt berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada (Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka itu kaum kerabat. {at-Taubah 9:113}

Khatimah
Sahabat Abdullah bin Abbas berkata, “Ada tiga ayat yang diturunkan tentang tiga perkara yang berpasangan, yang salah satunya tidak akan diterima bila tidak disertakan pasangannya:
1. Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul, {an-Nuur :54}. Ibnu Abbas berkata, “Barang siapa yang taat kepada Allah, tetapi tidak taat kepada Rasul, maka ditolak”.
2. Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, {al-Baqarah 2:43}. Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa yang shalat tetapi tidak zakat, maka tertolak”.
3. Bersyukurlah kamu kepada kedua orangtuamu. {Luqman :14}. Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah tetapi tidak bersyukur kepada kedua orangtua, maka tertolak, dan karenanya Nabi saw bersabda:

رِضَى اللهُ فِى رِضَى الْوَلِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهُ فِى سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ
Keridhaan Allah ada pada keridhaan orangtua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orangtua.

Al-Qudwah 12 Dzulqa’dah 1421H/Februari 2001M
ADAB MEMBACA AL-QURAN
Dede Tasmara

al-Quran adalah kalam (firman) Allah yang diturunkan kepada penutup para nabi dan rasul, Nabi Muhammad saw dengan perantara al-Amin Malaikat Jibril as yang sampai kepada kita secara mutawatir.

Membaca al-Quran bernilai ibadah. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم خَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (al-Quran) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf". {at-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi:3075}

Perkataan huruf termasuk kepada kalimat musytarakah (satu kata yang mempunyai beberapa makna). Huruf bisa bermakna huruf hija-i, huruf ma'ani, bisa juga bermakna (kata) jumlah mufiedah (kalimat). Yang dimaksud dengan huruf pada hadits di atas adalah huruf hija-i, sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Aku tidak mengatakan alif, lam, mim, itu satu huruf, tetapi alif itu satu hururf..."

Ada beberapa perkara yang bertalian dengan adab membaca al-Quran yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Hendaklah berlindung kepada Allah dari godaan syetan bila hendak membaca al-Quran. Allah swt berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Maka apabila kamu (akan) membaca al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang dikutuk. {an-Nahl 16:98}

Adapun redaksi ta'awwudz antara lain:
أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
Aku berlindung kepada Allah yang maha mendengar lagi maha penyayang dari syetan yang dikutuk, dari godaannya, gangguannya dan bisikannya. {Ahmad} {at-Tirmidzi} {Nailul Authar II:200}

atau
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang dikutuk. {Nailul Authar II:200}

atau
أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَّجِيمِ
Aku berlindung kepada Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui dari syetan yang dikutuk. {Abu Daud} {'Aunul Ma'bud II:349}

2. Hendaklah membaca al-Quran dengan tartil. Allah swt berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Dan bacalah al-Quran dengan tartil. {al-Muzammil :4}

Yang dimaksud dengan tartil adalah membaca huruf sesuai dengan haknya (makhraijul huruf), memperhatikan panjang pendeknya dan mengetahui tiap-tiap waqaf (dimana wajib berhenti, boleh berhenti, lebih utama berhenti, dan lain sebagainya).

Hal ini mesti diperhatikan betul, karena keliru dalam pelafadzan huruf atau tertukar panjang pendeknyaa (yang mesti panjang dibaca pendek atau sebaliknya) dapat mengubah makna, seperti kata () dengan dipanjangankan qafnya makna berkata, sedangkan kata () dengan dipanjangnkan lamnya mempunyai makna benci.

Anas bin Malik pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah saw, ia menjawab:
كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ بِسْمِ اللهِ بِالرَّحْمَنِ بِالرَّحِيمِ يَمُدُّ بِسْمِ بِاللهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ
Adalah bacaan Nabi saw itu maddan (memanjangkan yang mesti dibaca panjang), ia memanjangkan lafadz Allah, memanjangkan lafadz ar-Rahman, dan memanjangkan lafadz ar-Rahim. {al-Bukhari, Shahih al-Bukhari:5046}

Rasulullah saw bersabda:
وَلَا يَكُونُ هُمُّ أَحَدِكُمْ آخِرَ السُّورَةِ
Dan janganlah yang menjadi tujuan kamu itu akhir surat (ingin segera tamat). {al-Ajuri, al-Itqan I:282}

3. Hendaklah mentadaburi (merenungkan) ayat-ayat yang dibaca, karena itulah maksud dari membaca al-Quran. Allah swt berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) yang penuh dengan berkah supaya kamu memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. {Shaad 38:29}

Dan yang dimaksud dengan tadabur adalah menyibukkan hati dengan memikirkan makna yang diucapkan, merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangan yang terkandung padanya. beristighfar bila lewat kepada ayat hukum yang dilanggar pada waktu yang telah lalu, memohon rahmat bila lewat kepada ayat rahmat, berlindung kepada Allah bila lewat kepada ayat adzab dan mengagungkan serta memahasucikan Allah bila lewat kepada ayat yang mengagungkan dan memahasucikan Allah. {al-Itqan I:283}

4. Hendaklah membaca al-Quran dengan dawam (terus menerus/dibiasakan) walaupun hanya beberapa ayat (sedikit). Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amal-amal yang paling disukai oleh Allah ta'ala adalah yang dilaksanakan dengan dawam walaupun sedikit. {Muslim, Shahih Muslim I:348}

Hendaklah sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah.

Adapun ayat-ayat sajdah ada 14 ayat yang terdapat pada surat al-A'raaf 7:206, ar-Raad 13:15, an-Nahl 16:49, al-Israa' 17:107, Maryam:58, al-Hajj:18, al-Hajj:77, al-Furqan:60, an-Naml:25, alif lam mim tanzil:15, Fushilat:37, an-Najm:62, al-Insyiqaq:21, dan al-Alaq:19.

Catatan
1. Setelah membaca ta'awwudz dilanjutkan dengan membaca basmalah bila membaca surat sejak ayat pertama (kecuali surat Bara'ah/at-Taubah). adapun bila membaca surat tidak dari awal surat (ayat pertama) maka setelah membaca ta'awwudz tidak membaca basmalah.
2. Orang yang berhadats tidak dilarang membaca al-Quran.
3. Tidak disyariatkan berwudhu sebelum membaca al-Quran.
4. Ketika membaca al-Quran tidak disyariatkan menangis atau berpura-pura menangis bagi yang tidak bisa menangis. adapun hadits al-Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa Rasulullah saw menangis ketika mendengar bacaan Abdullah bin Mas'ud, hal itu diakibatkan oleh tadabbur dan tafakkurnya Rasulullah saw terhadap ayat yang dibacakan oleh Abdullah bin Mas'ud. hal ini menunjukkan bahwa menangis itu hanya sebagai akibat.
5. Tidak disyariatkan menghadap kiblat.
6. Tidak ada ketentuan tentang posisi ketika membaca al-Quran.

Al-Qudwah 13 Dzulhijjah 1421H/Maret 2001M
AKHLAQ BERDA’WAH
Dede Tasmara

Tentang akhlaq dan kaifiyat bertabligh yang mesti dipegang dengan teguh oleh setiap mubaligh, telah diterangkan olah Allah swt di dalam al-Quran, bahkan telah dicontohkan oleh Rasulullah saw melalui hadits-haditsnya, yaitu:

Ikhlas. Ikhlas adalah ruh amal, artinya, amal yang tidak disertai keikhlasan laksana jasad tanpa ruh. Setiap nabi dan rasul sebagaimana penyampai (mubaligh) risalah Allah diperintahkan untuk ikhlas. Allah swt berfirman:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar